Kisah Beribadah Di Tengah Lautan Manusia

0
33

Waktu puncak melakukan ibadah umroh adalah saat bulan Ramadhan. Mengapa ? Karena berumroh di bulan Ramadhan pahalanya seperti melakukan ibadah haji. Selain itu pada bulan Ramadhan terdapat malam Lailatul Qadr yang keutamaannya seperti beribadah selama 1000 bulan.

Umrah di bulan Ramadhan terasa sangat istimewa dari umrah di bulan lainnya yakni senilai dengan Ibadah Haji bahkan layaknya seperti haji bersama Nabi

Para jamaah umroh dari berbagai penjuru dunia datang ke Tanah Suci, untuk melakukan rangkaian ibadah umroh sekaligus memperbanyak ibadah lainnya baik saat di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram.

Bulan Ramadhan sering jatuh pada puncak musim panas di Arab Saudi dan magrib baru pada sekitar pukul 7.15 malam dan isya pada pukul 9 malam. Sholat tarawih biasanya dimulai sekitar pukul 9 dan jumlah rakaatnya adalah 23 termasuk witir. Surat yang dibaca biasanya panjang dan totalnya 1 juz, maka biasanya sholat tarawih berakhir menjelang pukul 12 malam.

Karena kondisi cuaca yang panas dan terik serta para jamaah yang sedang berpuasa, maka rangkaian ibadah umroh akan dilakukan setelah magrib.

Masjid-masjid di sekitar Madinah dan Masjidil Haram akan dipenuhi oleh manusia tidak hanya yang berasal dari luar Arab Saudi namun juga penduduk lokal Arab yang seolah “pindah” dari rumah di masjid untuk memperbanyak ibadah, beri’tikaf atau berdiam di masjid terutama pada malam awal, tengah dan 10 hari terakhir Ramadhan.

I’tikaf merupakan bentuk evaluasi diri kita, sejenak mendewasakan diri kita untuk di masa yang akan datang

Kisah mengharukan datang dari pada jamaah umroh yang berasal dari Pakistan, Turki dan Bangladesh. Mereka kebanyakan datang dengan biaya pas-pasan dan harus menginap di masjid atau pelataran masjid beralaskan kardus bekas kemasan makanan dan buah-buahan yang didapat dari supermarket terdekat.

Meskipun demikian mereka tetap bersemangat. Untuk berbuka dan bersahur mereka mendapatkan makanan pembagian dari masjid yang biasanya memang sangat banyak. Penduduk Arab Saudi seperti berlomba memberikan makanan gratis kepada para jamaah.

Tak jarang saat berbuka puasa mereka mengumpulkan makanan pemberian dari orang-orang yang bersedekah untuk dimakan bersama keluarga yang juga mereka bawa atau untuk makan sahur. Makanan tersebut dapat berubah kurma, roti, yoghurt, biskuit dan lain-lain.

Selain lautan manusia, lonjakan jumlah jamaah umroh Ramadhan juga memunculkan masalah baru yakni sampah dari para jamaah yang kadang hanya ditinggalkan di pelataran masjid.

Hal ini tentunya menambah beban pekerjaan dari para petugas kebersihan yang umumnya adalah kaum pendatang atau imigran. Petugas kebersihan tersebut juga mengalami kesulitan dari para jamaah yang meninggalkan sampah namun enggan pergi dari tempat agar mudah dibersihkan sebab takut tempatnya akan ditempati orang lain.

Padahal masjid usai berbuka puasa harus dibersihkan sebelum mulai sholat isya dan tarawih, sedangkan sampah sisa sahur harus sudah dibuang sebelum datangnya sholat subuh.

Meski bergaji kecil dan nyaris tanpa istirahat dalam 1 shift namun demi kebersihan masjid mereka bekerja keras setiap hari memunguti sampah dan mendorong troley berisi kantong sampah yang menggunung.

bukan karena kita cukup lalu bersedah, melainkan karena kita bersedekah lalu cukup

Karena itu para jamaah yang hendak bersedekah di Tanah Suci dapat memberi tips atau sejumlah uang untuk petugas kebersihan ini yang konon bergaji kecil.

Demikian kisah umroh yang dapat Anda jadikan pelajaran dan pengalaman berharga sebelum Anda menuju Tanah Suci untuk melaksanakan ibadah umroh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here